Temu Rekonsiliasi Paroki Bukapiting

Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor
Temu rekonsiliasi Paroki Bukapiting-Alor, 15 Maret 2026

Ketika Luka Lama Disuarakan: Jalan Sunyi Menuju Rekonsiliasi di SAYORA

Sore itu, aula Paroki St. Yakobus Rasul (SAYORA) Bukapiting tidak seperti biasanya. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak pula percakapan ringan yang biasa mengisi ruang pertemuan umat. Yang ada hanyalah keheningan—hening yang berat, seolah menyimpan cerita panjang yang selama ini dipendam.

Minggu, 15 Maret 2026, menjadi hari ketika keheningan itu akhirnya pecah.

Di hadapan sesama umat dan di bawah tatapan iman kepada Tuhan, satu per satu suara mulai muncul. Pelan, tertahan, bahkan bergetar. Para orang tua—mereka yang menyimpan ingatan paling dalam tentang masa lalu—mulai membuka kembali lembaran yang selama puluhan tahun nyaris tak tersentuh.

Ada jeda panjang sebelum kata-kata keluar. Ada mata yang berkaca-kaca. Ada juga suara yang hampir tak terdengar. Namun justru di situlah letak kekuatan peristiwa ini: kejujuran yang lahir dari hati yang pernah terluka.

Jejak Luka yang Pernah Terjadi

Sejak awal, komunitas SAYORA saat ini merupakan salah satu Stasi dari Paroki Yesus Gembala yang Baik Alor Pantar. Di Bukapiting, komunitas ini terdiri dari dua kampung; Sidongkomang dan Dingsinang yang secara bersama membangun stasi Bukapiting sejak tahun 1974 setelah berpindah dari gunung. Geliat semangat baru di tempat yang baru sangat terasa, di antaranya membangun sekolah, membangun gedung gereja dan menata komunitas basis untuk memudahkan peran dan kontribusi.

Dalam perjalanan itu, sekitar tahun 1985 hingga 1993, terjadi perpecahan di tengah umat karena perbedaan pemahaman yang tak kunjung ditemukan kata sepakat. Kedua kampung berpisah jalan membentuk gereja masing-masing.

Relasi yang semula hangat berubah renggang. Persaudaraan yang mestinya menyatukan justru terbelah oleh perbedaan dan luka. Masa itu menjadi salah satu fase paling sulit dalam kehidupan beriman dan bergeraja.

Namun perjalanan tidak berhenti di sana. Setelah melewati masa-masa kelam tersebut, umat perlahan menemukan jalan untuk kembali bersatu. Relasi diperbaiki, kehidupan menggereja dan kehidupan sosial berangsur pulih, dan kebersamaan kembali dibangun.

Semangat membangun iman secara bersama-sama menggeliat lagi, kehidupan berliturgi ditata, taman doa Gua Maria dibangung, gedung gereja yang dulu dibangun bersama kini dipugar. Ketika terjadi gempa bumi dahsyat yang datang meremukkan semua yang dibangun bersama, dengan sedikit harapan yang masih tersisa, umat bersama-sama saling meneguhkan agar gereja Katolik tetap hidup di tempat ini.

Seiring waktu, komunitas ini pun berkembang. Pada 10 Agustus 2008, Stasi Bukapiting resmi menjadi kuasi paroki dengan nama pelidung, Santu Yakobus Rasul—sebuah tonggak penting dalam perjalanan iman umat.

Namun demikian, seperti bara dalam sekam, jejak luka masa lalu tidak sepenuhnya hilang, bukan dalam luka yang dipendam dan sesewaktu diungkit tetapi dalam panggilan hidup bakti putra-putrinya yang seolah menemukan jalan tersumbat.

Sebuah Kegelisahan yang Mengusik

Kegelisahan itu perlahan muncul kembali dalam bentuk yang berbeda. Salah satu yang dirasakan bersama adalah kenyataan bahwa hingga kini, anak-anak dari SAYORA yang pernah menempuh pendidikan di seminari belum ada yang bertahan hingga menjadi imam. Mereka yang menjalani panggilan hidup bakti pun menemui aral-rintangan.

Bagi Dewan Pastoral Paroki (DPP), hal ini tidak dilihat semata sebagai kebetulan, tetapi sebagai tanda yang mengajak untuk berefleksi lebih dalam: apakah ada sesuatu dalam perjalanan iman bersama yang perlu dibenahi?

Dari pertanyaan itulah, keberanian untuk menoleh ke masa lalu kembali tumbuh. Ketua DPP, Silvester Asamai bersama dua perangkat DPP lainnya, Darius Asamal dan Matias Asamau, pada suatu malam menemui Pastor Paroki, Romo Alfons Hokon untuk membicarakan hal ini. Dari sinilah muncul kesepakatan untuk mengadakan temu rekonsiliasi. Tanggal 15 Maret 2026 menjadi waktu yang diputuskan pada saat itu.

Berani Membuka, Berani Mendengar

Temu rekonsiliasi yang digagas Dewan Pastoral Paroki bersama Pastor Paroki menjadi ruang yang tidak biasa. Ia menuntut keberanian—berani mengakui, berani mendengar, dan berani menerima.

Tidak ada tudingan. Tidak ada penghakiman.

Yang ada hanyalah usaha untuk jujur.

Para tokoh yang sudah dimintai kesediaan diberi kesempatan pertama memberi kesaksian. Satu per satu orang tua mulai berbicara. Ada yang mengakui kesalahan, ada yang mengungkap luka, ada pula yang lebih banyak diam sebelum akhirnya berkata. Kata-kata mungkin sederhana, bahkan terbata-bata. Tetapi setiap pengakuan terasa begitu dalam.

Perlahan, sesuatu yang lama hilang mulai tumbuh kembali: empati.

Melepaskan yang Membebani

Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor
Temu rekonsiliasi Paroki Bukapiting-Alor, 15 Maret 2026, dari kiri: Bpk. Adam Mallet, Bpk. Arnold Asamai, Bpk. Thomas Asalau, Bpk. Lamber Maitakai

Minggu Sore itu, bukan hanya kata-kata yang dilepaskan. Beban juga mulai ditanggalkan.

Beban yang dipikul selama bertahun-tahun—dalam diam, dalam rasa bersalah, dalam luka—perlahan menemukan jalannya untuk pergi.

Tidak semua persoalan selesai hari itu. Namun sesuatu yang lebih penting terjadi: pintu pemulihan kembali dibuka secara sadar dan bersama. Selesai berdialog dalam suasana persaudaraan yang dewasa, dengan hati yang lapang dan wajah berseri, semua saling berjabatan tangan.

Rekonsiliasi menjadi langkah untuk menata ulang relasi yang sudah pernah dipulihkan, agar kini semakin kokoh dan dewasa.

Menuju Meja Ekaristi yang Sama

Empat hari kemudian, Kamis, 19 Maret 2026, langkah itu mencapai puncaknya. Dalam Misa Pemulihan di gereja paroki, umat kembali berkumpul. Tidak hanya mereka yang tinggal di Sidongkomang dan Dingsinang, tetapi juga keluarga besar yang datang dari Kalabahi.

Suasana misa berlangsung khidmat, namun hangat. Ada nuansa kekeluargaan yang terasa lebih dalam—sebuah tanda bahwa relasi yang pernah retak kini dirawat kembali dengan kesadaran baru.

Di meja Ekaristi yang sama, mereka berdiri sebagai satu tubuh—bukan tanpa sejarah, tetapi dengan tekad untuk melangkah bersama.

Senyum yang Kembali Ditemukan

Di akhir semua itu, ada sesuatu yang sederhana namun penuh makna: senyum.

Senyum yang mungkin pernah redup, kini perlahan kembali. Disertai tawa kecil, meski mata masih menyimpan sisa haru.

Air mata dan sukacita bertemu di satu titik.

Dan di sanalah rekonsiliasi menemukan maknanya—
bukan sekadar memperbaiki masa lalu, tetapi menata masa depan.

Bagikan artikel ini ke:

Artikel Terbaru

    Jangan lewatkan

    Lagu Misa Katolik - Referensi Terbaik dan Terlengkap

    Lagu-Lagu Misa Katolik untuk Masa Prapaskah

    Lagu-Lagu Misa Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah

    Lagu Pembuka Misa Kamis Putih - Cinta Kristus Menyatukan Kita

    Teks Ibadat Jalan Salib Terbaru

    Lagu-Lagu Misa Arwah Katolik

    Jumat Agung; Makna Perayaan dan Panduan Ibadat

    Teks Koor Lagu-Lagu Jumat Agung

    Teks Ibadat Sabda Tanpa Imam Lengkap dengan Tata Caranya

    Minggu Palma; Makna Perayaan dan Panduan Misa