Teks Ibadat Jalan Salib Terbaru
Masa Prapaskah adalah perjalanan iman untuk kembali menyadari kasih Allah yang menyelamatkan. Dalam semangat Aksi Puasa Pembangunan 2026: Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan, panduan Jalan Salib ini mengajak kita bukan hanya mengenangkan sengsara Kristus, tetapi juga menimba kekuatan dari Salib-Nya untuk membangun solidaritas ekonomi sebagai tanda harapan bagi dunia. Setiap perhentian direnungkan dalam terang kehidupan nyata, terutama pergulatan mereka yang terluka oleh ketidakadilan dan beban ekonomi, agar doa kita berbuah dalam tindakan kasih yang konkret.
IBADAT JALAN SALIB
Tema APP 2026
Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan
Lagu Pembuka
Tanda Salib
P. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U. Amin.
Kata Pengantar
Saudara-Saudari terkasih, dalam masa tobat ini kita mengikuti Yesus yang menapaki Jalan Salib. Ia memanggul salib bukan hanya karena dosa pribadi manusia tetapi juga karena dosa-dosa sosial; ketidakadilan, keserakahan dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Dalam terang tema APP 2026, kita merenungkan bagaimana penderitaan Kristus mengajak kita membangun solidaritas sebagai tanda pengharapan bagi dunia. Marilah kita berjalan bersama Yesus dengan hati yang terbuka dan siap diubah.
Lagu :
Mari ki-ta me-re-nungkan
Yesus yang men-ja-di kurban
karna cinta kasih-Nya
Perhentian I
YESUS DIHUKUM MATI
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Atas desakan imam-imam kepala, Pontius Pilatus memutuskan mengabulkan tuntutan mereka untuk menyalibkan Yesus, walaupun ia tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya (Luk 23:24). Yesus dijatuhi hukuman oleh sistem yang tidak adil; kebenaran dikalahkan oleh kepentingan dan kekuasaan.
Hari ini pun, banyak orang kecil dan tak bersuara “dihukum” oleh sistem ekonomi yang timpang dan kebijakan yang tidak berpihak pada yang lemah. Dalam terang Salib, Gereja dipanggil menjadi gerakan misioner yang menghadirkan pengharapan dengan membangun solidaritas ekonomi: berbagi, memberdayakan, dan memperjuangkan keadilan agar yang lemah tidak semakin tersingkir. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan Yesus, ampunilah kami ketika kami diam melihat ketidakadilan yang melukai martabat manusia. Bangkitkan keberanian kami untuk membangun solidaritas ekonomi yang berpihak pada kehidupan, seperti Engkau yang selalu berbelaskasih pada yang lemah, sakit dan lapar. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Anak Domba tak bersalah
ajar kami pun ber-pasrah
taat pada Bapa-Mu
Perhentian II
YESUS MEMANGGUL SALIBNYA
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
Sambil memikul salib-Nya, Yesus dibawa keluar kota menuju tempat penyaliban (Yoh 19:17). Salib itu bukan hukuman atas kesalahan-Nya, melainkan beban yang Ia terima dengan setia demi keselamatan manusia.
Hari ini, banyak orang memikul salib yang tidak pernah mereka pilih: kemiskinan, pengangguran, dan beratnya beban ekonomi keluarga. Dalam terang pengurbanan Kristus, kita dipanggil menjadi Gereja yang misioner dengan tidak menambah beban sesama, melainkan ikut memikulnya melalui solidaritas nyata—mendampingi, berbagi, dan membuka jalan agar mereka kembali memiliki harapan. (Hening sejenak)
Marilah berdoa
U. Tuhan Yesus, ajarlah kami peka terhadap beban hidup sesama. Jangan biarkan kami larut dalam kenyamanan yang menutup mata dan hati kami, tetapi gerakkanlah kami untuk ikut memikul salib saudara-saudari kami melalui tindakan kasih yang menghadirkan pengharapan. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Kayu salib Dia panggul
mari kita pun me-mikul
salib kita di dunia
Perhentian III
YESUS JATUH UNTUK PERTAMA KALINYA
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
Beban salib yang berat membuat Yesus jatuh; Ia sungguh mengalami kelemahan manusiawi dan merasakan rapuhnya hidup yang tertekan penderitaan. Sungguh bukan hanya Salib yang dipanggul Yesus, melainkan juga dosa-dosa kita. “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kesalahan kita, hukuman yang mendatangkan keselamatan kita ditimpakan kepada-Nya.” (bdk. Yes 53:5) “Penyakit kitalah yang ditanggung-Nya dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya” (bdk. Yes 53:4).
Hari ini, banyak orang jatuh karena ekonomi yang rapuh dan kesempatan yang tidak adil. Namun kejatuhan bukanlah akhir. Dalam terang Salib, harapan tumbuh ketika ada tangan yang mau menopang. Sebagai Gereja yang misioner, kita dipanggil menghadirkan solidaritas yang menguatkan—memberi peluang, mendampingi yang gagal, dan membuka jalan agar mereka dapat bangkit kembali. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan, jadikan kami sahabat bagi mereka yang jatuh dan gagal. Ajarlah kami menghadirkan solidaritas yang memberi kesempatan untuk bangkit, sehingga melalui kami, pengharapan-Mu tetap hidup di tengah dunia, sebagaimana Engkau sendiri telah solider dengan manusia dan menjadi senasib dengan kami. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Tuhan Yesus tolong kami
bila kami ja-tuh lagi
karena salib yang berat
Perhentian IV
YESUS BERJUMPA DENGAN IBU-NYA
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
Di jalan salib, Yesus berjumpa dengan Maria, ibu-Nya (bdk. Yoh 19:25), ketika para murid telah lari meniggalkan Yesus sendiri di jalan derita ini. Tidak ada kata-kata, hanya tatapan penuh kasih seorang ibu. Maria hadir dalam kesetiaan; kehadirannya menjadi kekuatan di tengah derita.
Solidaritas sering dimulai dari keberanian untuk hadir, menemani, dan tidak meninggalkan. Dalam kehidupan ekonomi yang keras, banyak orang membutuhkan lebih dari sekadar bantuan materi: mereka membutuhkan perhatian, dukungan, dan kebersamaan. Sebagai Gereja yang misioner, kita dipanggil menghadirkan pengharapan melalui kesetiaan untuk berjalan bersama mereka yang sedang berjuang. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas teladan Bunda Maria dalam mendampingi orang yang menderita. Ajarlah kami pun mau peduli dengan sesama yang menderita seperti Bunda Maria. Semoga kehadiran kami, dalam kepedulian dan solidaritas nyata, menjadi sumber pengharapan bagi mereka yang sedang memanggul beban hidup. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
O Maria bunda kudus
yang setia i-kut Yesus
Kau teladan hidupku
Perhentian V
YESUS DIBANTU SIMON DARI KIRENE
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
Kelelahan dan beratnya salib membuat para serdadu memaksa Simon dari Kirene memikul salib Yesus (Luk 23:26). Awalnya ia terpaksa, namun tindakannya menjadi pertolongan nyata dan meringankan beban Sang Juruselamat.
Solidaritas tidak selalu lahir dari niat besar, melainkan dari kesediaan untuk terlibat. Dalam pergulatan ekonomi yang menghimpit banyak orang, harapan tumbuh ketika beban dipikul bersama—ketika kita mau berbagi waktu, tenaga, dan rezeki untuk menolong sesama bangkit. Di situlah Gereja menghadirkan wajah misioner yang membawa pengharapan. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan Yesus Kristus, melalui Simon dari Kirene Engkau mengajar kami untuk meringankan beban penderitaan orang lain. Bukalah hati kami untuk terlibat dalam penderitaan sesama. Ajarlah kami berbagi beban dengan tulus dan setia, agar melalui solidaritas kami, harapan-Mu semakin nyata di tengah dunia. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Apa pun yang kau lakukan
bagi para pen-de-rita
pada Tuhan berkenan
Perhentian VI
VERONIKAN MENGUSAPI WAJAH YESUS
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Seorang perempuan maju dan mengusap wajah Yesus (bdk. Mat 25:40 – dia adalah Veronika. Tindakannya sederhana, namun memulihkan martabat Dia yang wajah-Nya telah dinodai oleh kekerasan dan penghinaan. Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang Hamba Tuhan yang “begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi” (Yes 52:14), “tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada… dihina dan dihindari orang” (Yes 53:2-3). Wajah yang terluka itu adalah wajah manusia yang menderita dan tersingkir.
Di tengah dunia ekonomi yang keras, banyak orang kehilangan martabat karena kemiskinan dan ketidakadilan. Tindakan kecil yang manusiawi—menghargai, membela, dan memperhatikan—menjadi tanda pengharapan yang memulihkan. Sebagai Gereja yang misioner, kita dipanggil menghadirkan kembali wajah Allah dalam diri mereka yang direndahkan.. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan Yesus, jadikan kami wajah kasih-Mu bagi mereka yang terluka dan terpinggirkan. Ajarlah kami peduli dalam hal-hal sederhana, agar melalui perhatian dan kebaikan kecil kami, martabat sesama dipulihkan dan pengharapan-Mu semakin nyata di tengah dunia. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Bila kita meringankan
duka orang yang seng-sara
Tuhan Allah berkenan
Perhentian VII
YESUS JATUH UNTUK KEDUA KALINYA
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Yesus kembali jatuh di jalan salib. Ia yang sudah letih dan terluka harus tersungkur lagi. Nabi Yesaya melukiskan Dia yang “dianiaya dan ditindas, tetapi tidak membuka mulut-Nya… seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7). Dalam kejatuhan dan diam-Nya, Yesus menunjukkan keteguhan kasih yang tidak menyerah.
Banyak orang hari ini pun jatuh berkali-kali karena sistem yang tidak memberi ruang untuk bangkit, seolah kegagalan adalah akhir dari segalanya. Solidaritas sejati tidak cepat lelah atau menghakimi, tetapi setia menopang mereka yang terus berjuang. Sebagai Gereja yang misioner, kita dipanggil menghadirkan pengharapan dengan memberi kesempatan baru, mendampingi tanpa lelah, dan percaya bahwa setiap orang dapat bangkit kembali. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan, jauhkan kami dari sikap mudah menghakimi mereka yang jatuh. Teguhkanlah hati kami untuk tetap setia menolong dan menopang, agar melalui kesetiaan kami, saudara-saudari kami menemukan kekuatan untuk bangkit kembali. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Bilamana kami goyah
dan tercampak kar’-na salah
ya Tuhan, te-gakkanlah
Perhentian VIII
YESUS MENGHIBUR PEREMPUAN YERUSALEM
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Yesus berkata kepada perempuan-perempuan Yerusalem, “Janganlah menangisi Aku” (Luk 23:28). Di tengah penderitaan-Nya, Ia tidak terkurung dalam luka sendiri, tetapi tetap memikirkan keselamatan dan masa depan orang lain.
Sikap Yesus ini mengajarkan bahwa solidaritas lahir ketika hati tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan terbuka bagi sesama. Dalam tekanan hidup dan kesulitan ekonomi, kita tetap dipanggil menjadi Gereja yang misioner—yang mampu melihat penderitaan orang lain dan menghadirkan pengharapan melalui kepedulian, dukungan, dan keberanian berbagi. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan, ajarlah kami tetap peduli meski hidup kami sendiri tidak mudah. Bentuklah hati kami menjadi hati yang solider dan peka, agar melalui kasih kami, pengharapan-Mu semakin nyata di tengah dunia. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Dalam tobat yang sejati
kini akan ku-ra-tapi
dosa dan pe-langgaran
Perhentian IX
YESUS JATUH UNTUK KETIGA KALINYA
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Yesus jatuh lagi, hampir tak berdaya (bdk. 2Kor 4:9). Tubuh-Nya semakin lemah, namun kasih-Nya tidak padam. Dalam kerapuhan itu, Yesus berusaha bangun. Ia tetap setia melangkah menuju puncak pengorbanan, menyelesaikan perjalanan sampai ke puncak Golgota
Harapan tidak selalu lahir dari kekuatan yang besar, melainkan dari ketekunan untuk tetap mengasihi. Di tengah tekanan hidup dan beban ekonomi yang membuat banyak orang hampir menyerah, Gereja dipanggil menjadi tanda pengharapan—hadir, menerima, dan menguatkan, agar mereka yang terpuruk tidak kehilangan alasan untuk bangkit kembali. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan, kuatkanlah mereka yang hampir menyerah dan kehilangan harapan. Jadikanlah Gereja-Mu rumah pengharapan, tempat setiap orang menemukan kasih, penguatan, dan kesempatan untuk bangkit kembali, sebab Engkaulah kekuatan dan harapan kami sepanjang masa. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Bila hatiku gelisah
karna dosa dan de-rita
tangan-Mu u-lurkanlah
Perhentian X
PAKAIAN YESUS DITANGGALKAN
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Para prajurit menanggalkan pakaian Yesus (Yoh 19:23). Ia dilucuti bukan hanya dari pakaian-Nya, tetapi juga dari martabat-Nya; Ia dipermalukan di depan banyak orang, seakan-akan harga diri-Nya tidak lagi berarti.
Hari ini, banyak orang kehilangan hak, upah yang layak, dan rasa aman dalam hidup. Mereka dilucuti martabatnya oleh ketidakadilan dan sistem yang tidak berpihak. Dalam terang Salib, solidaritas ekonomi menjadi panggilan iman untuk menjaga dan memulihkan martabat manusia—memperjuangkan keadilan, menghargai kerja, dan memastikan setiap pribadi diperlakukan sebagai citra Allah. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan, sadarkanlah kami akan keluhuran martabat setiap pribadi yang Engkau ciptakan seturut gambar-Mu. Gerakkanlah kami untuk melawan segala bentuk perendahan manusia dan bantulah kami membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan manusiawi. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
PakaianMu dibagikan
martabatMu di-ren-dahkan
Kau tinggikan harkatku
Perhentian XI
YESUS DISALIBKAN
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Sampailah mereka di tempat yang bernama Golgota, yang berarti tempat tengkorak. Para serdadu memberikan anggur bercampur mur kepada Yesus, tetapi Yesus menolaknya. Kemudian mereka menyalibkan Dia (Cfr. Mrk 15:22-24a). Yesus disalibkan bersama dua penjahat (Luk 23:33). Ia diperlakukan seperti seorang kriminal; salib menjadi puncak ketidakadilan manusia, ketika yang tak bersalah dihukum mati di hadapan dunia.
Namun di kayu salib itu juga terpancar puncak kasih. Yesus menyerahkan diri-Nya demi kehidupan banyak orang. Kasih sejati selalu rela berkorban dan tidak berhenti pada kata-kata. Dalam terang Salib, Gereja dipanggil menghadirkan pengharapan melalui tindakan nyata—berbagi, memperjuangkan keadilan, dan membangun solidaritas ekonomi yang memberi hidup bagi sesama. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Yesus tersalib, ajarilah kami mengasihi bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata. Bentuklah kami menjadi umat yang berani berkorban dan setia menghadirkan pengharapan bagi banyak orang. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Dari Salib Kau melihat
tak terbilang yang meng-hujat
berapakah yang taat
Perhentian XII
YESUS WAFAT DI SALIB
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Ketika itu hari sudah kira-kira pukul dua belas siang, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai pukul tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa , ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!” Dan sesudah berkata demikian, Yesus menyerahkan nyawa-Nya (Cfr. Luk23:44-46). Dalam wafat-Nya, Lahir kehidupan baru. Kasih lebih kuat dari maut.
(Hening sejenak untuk menghormati wafat Tuhan)
Salib yang tampak sebagai akhir justru menjadi awal pengharapan. Dari pengorbanan Kristus mengalir rahmat yang memulihkan dunia. Solidaritas yang lahir dari kasih—yang rela memberi diri, berbagi, dan memperjuangkan kehidupan—menjadi tanda pengharapan sejati di tengah dunia yang terluka.
U. Tuhan Yesus, terimalah penderitaan dunia ini dan satukanlah dengan pengorbanan-Mu. Ubahkanlah luka dan ketidakadilan menjadi sumber kehidupan dan pengharapan, agar melalui kasih yang solider, dunia semakin mengalami keselamatan-Mu. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Biji mati menghasilkan
buah yang berkelimpahan
wafatMu meng-hidupkan
Perhentian XIII
JASAD YESUS DITURUNKAN DARI SALIB
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Yesus diturunkan dari salib dan diserahkan kepada mereka yang mengasihi-Nya (Markus 15:46). Maria menerima jenazah Yesus di pangkuannya. Maria melaksanakan apa yang pernah dikatakannya, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah kepadaku menurut perkataanmu.” (Cfr. Luk 1:38) Setelah diterima, Tubuh Yesus dirawat dengan hormat oleh komunitas yang setia; dalam duka yang mendalam, kasih tetap bekerja melalui kebersamaan.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa harapan hanya dapat bertahan jika dirawat bersama. Di tengah luka sosial dan himpitan ekonomi, komunitas yang solider menjadi tempat kehidupan dijaga, dipulihkan, dan dikuatkan. Sebagai Gereja yang misioner, kita dipanggil membangun persekutuan yang saling menopang agar pengharapan tidak padam. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Tuhan, jadikanlah komunitas kami tempat kehidupan dijaga dan dirawat. Satukanlah kami dalam kasih yang solider, agar bersama-sama kami menghadirkan pengharapan bagi dunia. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Salib tanda kehinaan
jadi lambang ke-me-nangan
karena Tuhan t’lah menang
Perhentian XIV
YESUS DIMAKAMKAN
P. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia
P. Yesus dimakamkan dalam kubur yang baru (Mat 27:60). Batu digulingkan menutup pintu makam, seolah segalanya telah berakhir. Namun makam bukanlah akhir; seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati untuk menghasilkan buah, di sanalah harapan sedang disiapkan untuk bangkit.
Dalam iman, kita percaya bahwa Allah bekerja dalam keheningan dan kesetiaan. Solidaritas ekonomi yang kita bangun hari ini—setiap tindakan berbagi, setiap upaya memberdayakan, setiap perjuangan demi keadilan—adalah benih Kerajaan Allah. Mungkin kecil dan tersembunyi, tetapi di tangan Tuhan, benih itu akan bertumbuh menjadi tanda pengharapan bagi dunia. (Hening sejenak)
Marilah berdoa.
U. Allah sumber pengharapan, teguhkanlah langkah kami untuk setia menabur benih solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah kami Gereja yang misioner, yang membangun harapan melalui kasih dan keadilan, demi terwujudnya Kerajaan-Mu di tengah dunia. Amin.
P. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami,
U. Allah ampunilah kami orang berdosa ini.
Tuhan Yesus dimakamkan
Masuk dalam pe-nan-tian
menyongsong ke-muliaan.
Doa Penutup
Marilah kita berdoa. (Hening))
Tuhan Yesus Kristus, kami telah mengikuti Engkau dalam jalan salib-Mu—jalan penderitaan yang menjadi jalan kasih dan keselamatan. Dalam setiap perhentian, Engkau mengajarkan kami bahwa pengorbanan bukanlah tanda kekalahan, melainkan benih pengharapan. Engkau menunjukkan bahwa kasih lebih kuat dari ketidakadilan, dan solidaritas lebih berdaya daripada egoisme manusia.
Teguhkanlah kami agar sebagai Gereja yang misioner, kami tidak hanya merenungkan sengsara-Mu, tetapi juga mewujudkan kasih-Mu dalam tindakan nyata. Gerakkanlah hati kami untuk membangun solidaritas ekonomi yang berpihak pada yang lemah, memberdayakan yang kecil, dan menghadirkan keadilan bagi mereka yang tertindas. Jadikanlah komunitas kami rumah pengharapan, tempat setiap orang mengalami martabatnya dihormati dan kehidupannya diperjuangkan.
Semoga melalui kesetiaan kami memanggul salib kehidupan sehari-hari, dunia semakin merasakan terang kebangkitan-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengharapan kami, kini dan sepanjang masa.
Amin.
(Berkat penutup oleh imamKalau tidak ada imam, pemimpin ibadat langsung menutup dengan pernyataan akhir berikut: )
Penutup
P. Saudara sekalian dengan ini Ibadat Jalan Salib kita sudah selesai.
U. Syukur kepada Allah.
P. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U. Amin.
Lagu Penutup
Semoga panduan Jalan Salib ini membantu kita berjalan bersama Kristus dan semakin peka terhadap penderitaan sesama. Kiranya permenungan ini tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menggerakkan hati untuk membangun solidaritas yang nyata—menguatkan yang lemah, memberdayakan yang kecil, dan menghadirkan pengharapan di tengah dunia. Selamat merenungkan dan merayakan kasih Tuhan yang setia hingga akhir.
Unduh panduan Jalan Salib 2026 melalui tombol Download di bawah.
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dapatkan berbagai teks lagu Misa dan panduan ibadat serta doa-doa Katolik dengan menjelajahi blog kesayangan kita ini. Tuhan memberkati.